Duh, Mau Bergerak Untuk Bumi Tapi Bingung Mau Mulai Darimana..

Ut in laoreet sapien eu amet
February 3, 2017
Manifesto Keadilan Iklim
February 14, 2021

Penulis: Vina Syofiatul Ulfa (Koprol Iklim) | Editor: Geani Budiningsih Istira (Koprol Iklim)

Krisis iklim dan kerusakan lingkungan merupakan permasalahan global yang harus diselesaikan bersama – sama. Rangkaian praktik aksi baik kecil ketika dilakukan secara masif dapat memunculkan dampak yang besar. Salah satu contoh praktik aksi baik sederhana yang dapat kita lakukan adalah membawa botol minum atau tumbler, kotak makan, serta tas belanja ketika berpergian sebagai langkah awal dalam upaya mengurangi sampah plastik.

Kaitan sampah plastik dengan krisis iklim disuratkan dalam buku Plastic & Climate : The Hidden Costs of a Plastic Planet yang diterbitkan oleh the Center International Environmental Law. Dalam buku tersebut menyatakan bahwa jumlah emisi karbon yang dihasilkan dari siklus produksi plastik mengalami peningkatan setiap tahunnya dan saat ini sudah mencapai angka 2.8 juta metric ton CO2 yang mana itu sama saja setara dengan 500 buah pembangkit Tenaga Batu Bara.

Sekarang mari kita coba intip ke dalam lemari pakaianmu. Ada berapa banyak pakaian yang terlipat atau menggantung disana yang hanya kamu gunakan untuk mengikuti trend atau mode? Tanpa kita sadari ternyata industri tekstil yang merupakan fast fashion trend menyumbang sekitar 1,2 miliar ton CO2 ke udara, loh! Hal ini setara dengan 300 pembangkit listrik tenaga batu bara. Wow. Ada banyak upaya yang bisa kita lakukan yaitu dengan berinisiatif melakukan gerakan tukar baju dengan sahabat atau rekan, menjual atau mendonasikan baju yang tidak terpakai, atau melakukan ragam inovasi dengan baju bekas seperti membuat tas atau kerajinan unik lainnya.

You are what you eat, katanya. Salah satu praktik aksi baik yang dapat kamu lakukan selama pandemi ini adalah berkebun! Seperti belajar menanam cabai, jeruk, stroberi, bawang, dan lainnya. Katanya, ketika kita menyantap makanan yang dihasilkan dari hasil tangan sendiri itu kenikmatannya beda, loh. Selain itu, kita juga bisa belajar untuk menanam tanaman yang bisa menyumbang lebih banyak oksigen ke udara.

Jika dilakukan secara konsisten, kamu dapat membuang bank pangan pribadi di pekarangan rumahmu serta mengurangi perilaku konsumtif berbelanja. Oh iya, selain membantu persediaan bumbu dapur, kegiatan berkebun dapat dijadikan salah satu hal media untuk terapi untuk stress, loh! Maka dari itu langkah ini sangat cocok untuk meningkatkan produktivitas sembari melakukan kebaikan untuk bumi. Kalau kamu belum sempat mencoba berkebun, kamu juga bisa loh ikut gerakan menyumbangkan pohon lewat ragam aktivitas menarik yang tentunya bermanfaat!

Selanjutnya, praktik aksi baik yang dapat kamu lakukan adalah dengan berjalan kaki atau bersepeda ketika bepergian jarak dekat. Selain membuat tubuh kita bergerak dan meningkatan kesadaran kita akan kondisi sekitar yang seringkali luput dari penglihatan, manfaat lainnya adalah kamu turut berkontribusi untuk mengurangi polusi udara yang mencemari lingkungan! Lalu.. Bagaimana jika jarak tempuhnya terlalu jauh? Alih-alih menggunakan kendaraan pribadi lalu terjebak kemacetan selama berjam-jam, cobalah menggunakan angkutan umum.

Ketika menggunakan angkutan umum, kita bisa melihat wajah lelah sang sopir yang mungkin sedang diliputi kecemasan untuk mengejar setoran demi anak istri, atau mungkin tangisan balita dalam dekapan ibunya, hingga para remaja yang asyik berguyon seputar kisah di sekolah. Sekilas potret kehidupan tersebut merupakan hal-hal yang tidak dapat kamu jumpai dengan kendaraan pribadi namun dapat kembali memantik rasa kemanusiaan kita yang kian meredup akibat hiruk-pikuk kota. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.

Ada lagi praktik aksi baik paling mudah yang bisa kamu lakukan yaitu dengan mematikan lampu dan mencabut colokan listrik jika tidak terpakai. Terdengar sangat mudah untuk dilakukan, bukan? Namun kenyataanya seringkali kita melupakan hal – hal tersebut. Hayo, siapa yang punya kebiasaan tetap memasang charger gawai meskipun baterainya telah terisi penuh? Yap, mungkin hampir dari kita pernah melakukan hal ini.

Selain itu, selama masa pandemi kita sering menggunakan zoom untuk berbagai keperluan mulai dari rapat kantor, sekolah, hingga nobar bareng squad-mu. Tapi tahukah kamu bahwa dunia IT menyumbang 2% emisi karbon di dunia? Menurut laporan Guardian terkait emisi gas akibat penggunaan internet, pencarian menggunakan Google menghasilkan 0,2 karbon dioksida, menonton video di Youtube selama 10 menit menghasilkan 1 gram karbon dioksida, kemudian mengecek linimasa Facebook selama setahun melepas 269 gram karbon dioksida ke udara! Ya ampun.. serba salah ya kayak Raisa. Yuk, kita berlatih untuk lebih sadar ketika melakukan segala sesuatu.

Jika dengan membaca ini kamu merasa tidak nyaman, itu karena kita sedang tidak baik-baik saja. Pola hidup dan keserakahan manusia telah mengancam keberlanjutan bumi dan seluruh kehidupan yang ada didalamnya. Kesadaran hanya akan terbangun lewat pengetahuan. Selagi ada waktu, pergunakanlah kesempatan dan privilege-mu untuk mengakses ragam pengetahuan dengan membaca, menghadiri rangkaian kegiatan dan webinar yang berkaitan dengan krisis iklim ataupun bergabung dengan komunitas atau gerakan peduli lingkungan. Salah satunya adalah bergabung dalam gerakan koprol bersama mendorong keadilan iklim di Indonesia bersama Koprol Iklim. Praktik aksi baik di atas terlihat sangat mudah bukan? Ketika kita lakukan bersama, perubahan yang kita impikan akan menjadi kenyataan.

We all just need to start somewhere. Right now.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Gabung