Krisis Iklim

Krisis Iklim

KRISIS IKLIM merupakan ancaman global yang tengah dihadapi seluruh umat manusia akibat perubahan iklim yang disebabkan oleh kerusakan lingkungan. Krisis iklim membawa dampak serius pada seluruh lini kehidupan, mulai dari wabah penyebaran penyakit, krisis pangan, air bersih, hingga tenggelamnya wilayah pesisir.

Masa depan kita sebagai kaum muda tengah terancam apabila kita tidak segera melakukan tindakan apapun untuk mendorong Indonesia keluar dari krisis iklim.

  • Indonesia adalah negara pemilik hutan tropis ketiga terbesar di dunia. Luas hutan alam Indonesia pada tahun 2019 mencapai 88.7 juta hektare atau 46.7% dari total luas lahan Indonesia[9]. Dari tahun 2006 hingga 2018, Indonesia telah kehilangan 7.4 juta hektare hutan alam (KLHK, 2006-2018), dengan total deforestasi yang terjadi di Indonesia pada periode 2018-2019 adalah 462,458.5 Ha/tahun (BPS, 2020).
  • Dengan laju rata rata kenaikan muka air laut Indonesia sebesar ± 4.5 mm/tahun maka potensi banjir rob yang besar dapat mengakibatkan hilangnya sebagian pesisir pantai Indonesia. Dampak lainnya adalah besarnya laju migrasi dan hilangnya sebagian pendapatan penduduk yang menempati hampir 60% kawasan pesisir Indonesia
  • Berdasarkan laporan para ahli perubahan iklim dunia dalam IPCC Assessment Report ke 4 (IPCC AR4), kenaikan suhu rata-rata global diatas 20 C akan menyebabkan dampak perubahan iklim yang berbahaya bagi ekosistem dan keberlangsungan hidup manusia. Bahkan, dengan semakin meningkatnya emisi gas rumah kaca yang dilepaskan ke atmosfer dalam satu dekade terakhir, kenaikan suhu rata-rata global diatas 1.50 C dapat menyebabkan dampak perubahan iklim yang tidak bisa dibenahi (irreversible).
  • Berdasarkan data dari Climate Action Tracker (per 20 September 2020), komitmen iklim Indonesia masuk dalam kategori highly insufficient atau sangat tidak cukup. Hal ini dikarenakan potensi Indonesia dalam menghasilkan emisi GRK ke depan masih cukup tinggi, akibat praktek yang tidak berkelanjutan seperti pembukaan lahan dan hutan dengan cara dibakar dan pemakaian energi fosil sebagai bahan bakar utama pembangkit listrik.
  • Batubara masih mendominasi porsi bauran energi pada pembangkitan tenaga listrik nasional. Hingga Mei 2020, bauran batubara masih menguasai 63.92% dari pemakaian energi primer untuk memproduksi listrik
Gabung