Manifesto Keadilan Iklim

Duh, Mau Bergerak Untuk Bumi Tapi Bingung Mau Mulai Darimana..
February 13, 2021
Empat Tuntutan Anak-anak Muda ‘Koprol Iklim’ di Hari Kasih Sayang
February 14, 2021

MANIFESTO KEADILAN IKLIM

KOMUNITAS PEMUDA PEMUDI PRO-KEADILAN IKLIM

#KOPROL IKILM

Manifesto Keadilan Ikim merupakan seruan kaum muda Indonesia kepada masyarakat dan pemerintah agar lebih peduli terhadap krisis iklim.

Download PDFManifesto Koprol Iklim

Bahwa komitmen iklim bersama negara-negara di dunia belum cukup untuk menghindarkan bumi dari bahaya atas krisis iklim

Berdasarkan laporan para ahli perubahan iklim dunia dalam IPCC Assessment Report ke-4 (IPCC AR4), kenaikan suhu rata-rata global diatas 20 C akan menyebabkan dampak perubahan iklim yang berbahaya bagi ekosistem dan keberlangsungan hidup manusia. Bahkan, dengan semakin meningkatnya emisi gas rumah kaca yang dilepaskan ke atmosfer dalam satu dekade terakhir, kenaikan suhu rata-rata global di atas 1.50 C dapat menyebabkan dampak perubahan iklim yang tidak bisa dibenahi (irreversible). Saat ini berdasarkan proyeksi UNEP Emission Gas Report 2020[1], kenaikan temperatur global akan mencapai lebih dari 30 C jika seluruh negara tidak segera meningkatkan komitmen iklimnya. Komitmen iklim setiap negara harus ditingkatkan lima kali lipat agar tercapai target 1.50 C.

Bahwa Indonesia adalah negara kepulauan yang sangat rentan akan dampak krisis iklim. Di sisi lain, Indonesia merupakan negara dengan potensi penyumbang emisi Gas Rumah Kaca yang sangat besar, khususnya dari sektor lahan dan energi. Sementara itu, adaptasi perubahan iklim belum menjadi prioritas perencanaan dan implementasi pembangunan

Dengan laju rata-rata kenaikan muka air laut Indonesia sebesar ± 4.5 mm/tahun maka potensi rob yang besar dapat mengakibatkan hilangnya sebagian pesisir pantai Indonesia. Dampak lainnya adalah besarnya laju migrasi dan hilangnya sebagian pendapatan penduduk yang menempati hampir 60% kawasan pesisir Indonesia[2].

Pemerintah Indonesia, dalam Third National Communication to the UNFCCC telah menghitung kebutuhan pembiayaan perubahan iklim selama periode tahun 2016-2020 sebesar 3.41 Triliun. Namun, angka ini baru setara dengan 34% dari total kebutuhan pendanaan perubahan iklim di Indonesia[3]. Perubahan iklim sendiri terlihat jelas belum menjadi prioritas karena total APBN Indonesia di tahun 2020 hanya mengalokasikan 1.1% (Rp 18.4 triliun) untuk kegiatan perlindungan lingkungan hidup[4].

Bahwa Pemerintah Indonesia belum menetapkan NDC (Nationally Determined Contributions) dan rancangan pelaksanaan aksi yang cukup ambisius untuk mendukung pencapaian target Paris Agreement

Berdasarkan data dari Climate Action Tracker (per 20 September 2020), komitmen iklim Indonesia masuk dalam kategori highly insufficient atau sangat tidak cukup. Hal ini dikarenakan potensi Indonesia dalam menghasilkan emisi GRK (Gas Rumah Kaca) ke depan masih cukup tinggi, akibat praktek yang tidak berkelanjutan seperti pembukaan lahan dan hutan dengan cara dibakar dan pemakaian energi fosil sebagai bahan bakar utama pembangkit listrik. Apabila Indonesia terus melakukan praktik tidak berkelanjutan, sebagaimana dilakukan banyak negara lain, maka potensi kenaikan suhu rata rata dunia sebesar 3-4 derajat Celcius di Tahun 2050 sangat mungkin terjadi, apabila negara-negara di dunia berada satu level dengan komitmen NDC Indonesia[5].

Bahwa ketergantungan Indonesia pada energi batu bara di sektor kelistrikan masih sangat tinggi sehingga kondisi tersebut menghambat target pencapaian 23% bauran energi pada Tahun 2025

Realisasi energi terbarukan untuk sektor kelistrikan Indonesia hanya mencapai 14.21% dari bauran energi listrik nasional[6] pada semester I 2020, sedangkan bauran energi terbarukan secara keseluruhan baru mencapai 9.15% dari target 23% dari target yang dicanangkan pada 2025. Batubara masih mendominasi porsi bauran energi pada pembangkitan tenaga listrik nasional. Hingga Mei 2020, bauran batubara masih menguasai 63.92% dari pemakaian energi primer untuk memproduksi listrik[7].

Bahwa Hutan Indonesia selain merupakan paru-paru dunia juga berperan penting dalam mengendalikan krisis iklim dan menjaga keanekaragaman hayati. Tapi, luas hutan Indonesia terus menurun dari waktu ke waktu

Indonesia adalah negara pemilik hutan tropis ketiga terbesar di dunia[8]. Luas hutan alam Indonesia pada tahun 2019 mencapai 88.7 juta hektare atau 46.7% dari total luas lahan Indonesia[9]. Dari tahun 2006 hingga 2018, Indonesia telah kehilangan 7.4 juta hektare hutan alam (KLHK, 2006-2018), dengan total deforestasi yang terjadi di Indonesia pada periode 2018-2019 adalah 462,458.5 Ha/tahun (BPS, 2020).

Hutan dan lahan gambut menyimpan stok karbon yang sangat besar. Tingginya angka deforestasi dan degradasi lahan merupakan salah satu sumber emisi terbesar di Indonesia. Hutan juga memiliki fungsi beragam dalam kehidupan manusia: sumber oksigen, perlindungan ekosistem dan keanekaragaman hayati, sumber kehidupan dan pendukung perekonomian masyarakat. Hutan yang subur juga membantu mencegah bencana alam serta dapat memberikan alternatif penghasilan bagi masyarakat sekitarnya seperti melalui ekowisata dan pertanian berkelanjutan.

Untuk mencapai target NDC di sektor kehutanan, Indonesia harus menekan tingkat deforestasi hingga 325 ribu hektar per tahun pada periode 2020-2030 dan menghentikan kebakaran hutan dan lahan, terutama di lahan gambut[10]. Adanya perubahan kebijakan yang secara langsung dan tidak langsung menambah tantangan pada upaya penurunan laju deforestasi, seperti dihapusnya batasan minimum kawasan hutan dalam UU Cipta Karya[11].

Bahwa penyediaan lapangan kerja berbasis Green Jobs harus ditingkatkan

Pertumbuhan penduduk usia produktif di Indonesia yang mencapai 24%, merupakan peluang bonus demografi yang perlu dioptimalkan[12]. Adanya dampak dan kesempatan yang timbul akibat Perubahan iklim dapat mempengaruhi pasar tenaga kerja dan lapangan pekerjaan[13]. Strategi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim membutuhkan teknologi, pelayanan, dan infrastruktur yang ramah lingkungan sehingga akan dibutuhkan pula banyak tenaga kerja yang memahami dan mengakomodir kebutuhan tersebut. Studi menyebutkan bahwa industri hijau akan menciptakan lapangan pekerjaan sebanyak 2 hingga 5 kali lipat dibandingkan industri fosil[14]. Oleh karena itu, Green jobs merupakan solusi tepat guna di masa depan.

Bahwa masyarakat adat memiliki peranan penting dalam mengatasi perubahan iklim namun eksistensi mereka terancam

Masyarakat adat di sekitar hutan dan pesisir Indonesia merupakan bagian dari solusi aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim karena banyak kearifan lokal yang prakteknya jauh lebih berkelanjutan dari teknologi modern[15]. Pelibatan masyarakat adat penting dalam mengatasi perubahan iklim karena hutan adat dunia menyimpan 20% karbon dari hutan tropis dunia[16]. Pemahaman masyarakat adat atas hutan dan pesisir sebagai warisan leluhur yang harus dijaga dapat menjadi kekuatan untuk pengelolaan hutan dan pesisir yang bermanfaat bagi masyarakat dan ekologis[17]. Saat ini, eksistensi mereka terancam di tengah banyaknya upaya penjarahan sumberdaya alam dan pengalihan fungsi hutan yang menyingkirkan hak-hak masyarakat adat[18].

Bahwa belum ada wadah bagi kaum muda Indonesia yang terstruktur untuk menyalurkan aspirasinya guna merencanakan masa depan mereka secara berkelanjutan

Untuk menyelamatkan masa depan, suara dan kepemimpinan generasi muda harus dikedepankan dalam merancang pembangunan dan pengambilan keputusan. Dengan peranan generasi muda yang baik untuk mengatasi perubahan iklim, maka Indonesia akan memiliki peran besar dalam mengendalikan iklim dunia[19] akan tetapi, saat ini belum ada pelibatan sistematis generasi muda dalam merancang pembangunan maupun merumuskan kebijakan terkait pengendalian krisis iklim.

Dalam momentum peringatan lima tahun Paris Agreement ini, Komunitas Pemuda Pemudi Pro Keadilan Iklim (Koprol Iklim) mendesak pemerintah untuk:

  1. Segera tingkatkan Komitmen Iklim untuk mencapai Paris Agreement! Antara lain melalui Green Economy dalam pemulihan ekonomi nasional pasca Covid-19.
  2. Segera tinggalkan energi fosil dan beralih ke energi terbarukan!
  3. Lindungi dan jaga hutan tersisa serta keanekaragaman hayati di Indonesia!
  4. Akui hak-hak masyarakat adat sebagai benteng terakhir dalam perlindungan hutan dan pesisir!

Kami, Anak Muda yang tergabung dalam Koprol Iklim, sebagai bagian dari generasi yang akan memimpin masa depan Indonesia, menginginkan kesempatan dan ruang untuk dapat memilih arah pembangunan yang berkelanjutan, berkeadilan, dan berwawasan iklim dan lingkungan. Oleh karena itu:

  1. Beri kami tempat untuk turut menentukan masa depan melalui pembentukan Dewan Anak Muda Nasional!
  2. Beri kami lapangan kerja hijau yang benar benar memberikan ruang untuk masa depan berkelanjutan dan berwawasan iklim dan lingkungan!

[1] https://www.unenvironment.org/emissions-gap-report-2020

[2] https://kumparan.com/malikamutiazahra/kenaikan-permukaan-air-laut-beberapa-wilayah-indonesia terancam-tenggelam-1ujqYYTTojr

[3] Diolah dari berbagai sumber

[4] https://news.detik.com/kolom/d-4861160/yang-terabaikan-dalam-perubahan-iklim

[5] https://climateactiontracker.org/countries/indonesia/

[6] https://www.dunia-energi.com/porsi-ebt-hingga-semester-i-2020-dalam-bauran-energi-baru-915/

[7] https://investasi.kontan.co.id/news/hingga-mei-2020-bauran-energi-untuk-produksi-listrik-masih-dikuasai-batubara

[8] https://www.worldatlas.com/articles/5-countries-with-the-largest-rainforest-area.html

[9] Analisis Spasial Madani 2020

[10] NDC Indonesia 2016

[11] https://www.mongabay.co.id/2020/10/21/mengapa-lingkungan-hidup-terancam-dengan-ada-omnibus-law/

[12] https://www.idntimes.com/news/indonesia/vanny-rahman/bonus-demografi-di-indonesia-peluang-atau-tantangan-ims2019

[13] https://www.uncclearn.org/wp-content/uploads/library/wcms_502730ilo2.pdf

[14] https://iesr.or.id/pemulihan-hijau-perlu-diterapkan-dalam-upaya-percepatan-pertumbuhan-ekonomi-pasca-pandemi

[15] http://pojokiklim.menlhk.go.id/read/peran-masyarakat-adat-menghadapi-perubahan-iklim-dalam-tataran-negara

[16] https://www.mongabay.co.id/2015/12/06/pelibatan-masyarakat-adat-bisa-jadi-jurus-ampuh-atasi-perubahan-iklim

[17] https://www.mongabay.co.id/2017/09/06/peran-masyarakat-adat-di-wilayah-pesisir-sangat-penting-seperti-apa/

[18] https://theconversation.com/janji-pemerintah-untuk-melindungi-hak-masyarakat-adat-belum-terwujud-2-hal-yang-perlu-dilakukan-128547

[19] https://republika.co.id/berita/nasional/umum/16/04/20/o5xh31280-pentingnya-generasi-muda-memahami-peranan-atasi-perubahan-iklim

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Gabung